let's see my blog

SusteR BernadettE


Berkunjung ke Lourdes selalu menimbulkan kesan yang mendalam. Di sana saya melihat bagaimana Tuhan berkarya lewat peristiwa-peristiwa yang menakjubkan. Orang-orang sakit dan yang duduk di atas kursi roda menimbulkan dalam hatiku betapa besar iman mereka. Apakah Lourdes merupakan tempat pengharapan yang terakhir ?

Dari sana kami sempat mampir ke Nevers. Di sana terbaring Jenasah St. Bernadette dalam peti kaca yang indah. Tubuhnya masih utuh. Betapa tenang wajahnya menunjukkan betapa besar Tuhan. Hatiku bersorak dalam puji-pujian kepada Tuhan. Aku mendengar betapa Maria telah memberi rahmat yang berlimpah kepada dunia lewat santa yang satu ini.

Seorang pengunjung dari Amerika nampaknya kagum tapi juga tidak percaya. “Betulkah ini jenasah Santa Bernadette? Bukan tiruan atau boneka…..?” Bisa saja orang meragukannya. Usianya sudah begitu lama yakni sejak kematiannya pada tahun 1879 hingga kini masih tetap utuh merupakan suatu keajiban atau suatu penipuan.

Saya mencoba membolak-balik beberapa buku yang mengkisahkan penampakan di Lourdes. Di dalamnya ada juga catatan mengenai sejarah sampai jenasah orang suci itu disimpan di Nevers. Sebuah buku yang dijual di Nevers berjudul “Het Lichaam van de Heilige Bernadette” (Tubuh St. Bernadette) karangan Pater Andre Ravier mengungkapkan sedikit dari rahasia itu.

Suster Bernadette dengan nama biara Suster Marie Bernard meninggal dunia di ruang orang sakit Salib Suci di Biara St. Gildard, tempat Bernadette menjadi suster. Ia meninggal pada hari Rabu sesudah hari raya Paskah tepatnya pada tanggal 16 April 1879.

Jenasah diletakkan dalam sebuah peti kayu eik. Bagian dalam peti itu diberi lapisan timah. Setelah melalui upacara liturgis dan juga setelah didengar saksi-saksi yang membuat proses verbal mengenai kematian, peti ditutup dan disegel. Inspektur Polisi Devraine dan para agen polisi Saget dan Moyen ikut menjadi skasi ketika peti ditutup.

Pada tanggal 30 Mei 1879, diadakan upacaya terakhir pemakaman. Peti itu kemudian ditempatkan dalam makam Kapel St. Yosef yang masih dalam lingkungan biara St. Gildard. Pemerintah setempat memberi izin penempatan peti itu.

Sementara itu keuskupan dan biara mengumpulkan berbagai kesaksian dan bukti-bukti untuk diajukan ke Roma. Bukti dan kesaksian itu merupakan bagian dari bahan yang akan menjadikan Bernadette orang kudus. Banyak orang memberi kesaksian mengenai peristiwa-peristiwa ajaib seperti penyembuhan lewat Bernadette. Tahun 1909, bahan-bahan itu sudah terkumpul dan dianggap cukup.

Setelah itu sesuai dengan peraturan Gereja dan juga sesuai dengan hukum Negara, jenasah Bernadette diselidiki secara lebih teliti. Pengenalan kembali jenasah itu untuk melihat bagaimana keadaannya sampai saat itu. Hal itu diadakan sampai tiga kali. Yang pertama pada tanggal 22 September 1909, kedua pada tanggal 3 April 1919 dan yang terakhir pada tanggal 18 April 1925.

Ketiga pengenalan kembali itu dibuatkan catatan terinci. Penyelidikan keadaan jenasah Bernadette juga dilakukan oleh pejabat-pejabat setempat dan dokter-dokter ahli dibawah sumpah. Para pembesar Pemerintah ikut menyaksikan. Akhirnya semua hasil itu menunjukkan kepada pimpinan Gereja bahwa jenasah Bernadette walaupun telah 50 tahun dalam peti tetapi tetap utuh, tidak membusuk. Para penyelidik sama sekali tidak merasakan adanya bau busuk yang keluar dari jenasah itu.

Setelah mendapat kepastian lewat bukti-bukti dan kesaksian para ahli di bawah sumpah, pada tanggal 18 April 1925, jenasah dibalut dengan kain kecuali wajah dan tangannya. Kemudian jenasah diletakkan kembali dalam peti jenasah tetapi tidak ditutup. Selanjutnya jenasah disemayamkan di kapel St. Helena; semua pintu masuk ke dalam kapel tersebut dikunci dan disegel sehingga tak seorang pun dapat masuk.

Sementara itu di ruang kerja firma Armand Caillat Cateland di Liyon dibuatkan sebuah peti kaca. Firma Pierre Imans di Paris membuatkan masker wajah dan tangan Bernadette semasa hidupnya sebab wajahnya berwarna kehitam-hitaman dan matanya terlalu cekung. Dengan demikian, orang yang yang melihat akan memperoleh kesan yang mengerikan. Untuk menghindarkan kesan semacam itu maka wajah dan tangannya akan ditutup dengan masker.

Pada tanggal 14 Juli 1925, Bernadette digelarkan secara resmi: Bahagia oleh Paus Pius XI. Pada tanggal 18 Juli 1925 masker sudah siap dan peti kaca juga sudah dibawa ke Nevers. Sebelumnya para suster yang mengenakan pakaian suster yang baru pada jenasah Bernadette. Begitu pula masker dikenakan pada wajah dan tangannya.

Diiringi nyanyian Misa untuk para perawan, jenasah kemudian diusung ke ruang novisiat dengan usungan berwarna putih. Akhirnya jenasah ditempatkan dalam peti kaca. Semua itu dijalankan dengan upacara yang sederhana.

Pada sore hari tangal 3 Agustus 1925 dengan upacara meriah, peti kaca berisi jenasah Bernadette dipindahkan dan ditempatkan di kapel Biara St. Gildard. Pada tanggal 4-5 dan 6 Agustus 1925 diadakan “Triduum” meriah untuk menghormati sang “Bahagia” baru itu.

Dalam bulan Agustus 1925 itu mulailah berduyun-duyun orang berziarah ke kapel Biara St. Gilfard untuk menghormati St. Bernadette dan meminta pengantaranya.

Pada tangal 8 Desember 1933, Bernadette digelarkan “Suci” oleh Sri Paus Pius XI.

February 17, 2011 - Posted by | ReLigioN

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: